Obat Untuk Menurunkan Darah Tinggi

Obat untuk menurunkan darah tinggi bisa berasal dari bahan herbal atau kimia karena 90% hipertensi tidak diketahui penyebabnya. Tujuan pengobatan hipertensi diarahkan untuk menurunkan tekanan darah ke tingkat yang wajar sehingga kualitas hidup penderita tidak menurun. Oleh karena itu, pengobatan darah tinggi dengan obat kimia diarahkan langsung untuk menurunkan tekanan darahnya, bukan untuk mengobati penyebabnya. Di samping tujuan di atas  pengobatan hipertensi dengan obat kimia juga diarahkan untuk mengurangi akibat dari penyakit hipertensi, seperti kesakitan, pengerasan pembuluh darah (arteriosklerosis), penyembuhan penyakit penyerta, dan memulihkan kerusakan target organ dan mencegah kerusakan akibat hipertensi.



obat untuk menurunkan darah tinggi
Tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah (tensi)


Selain itu, pengobatan darah tinggi juga diarahkan untuk menghindarkan hal-hal yang mengakibatkan kenaikan tekanan darah antara lain: makanan berlemak tinggi, garam, daging kambing, buah durian, minuman beralkohol, rokok, dan kopi. Obat kimia untuk darah tinggi diberikan untuk menurunkan tekanan darahnya, bukan mengobati penyebabnya.

Untuk menurunkan tekanan darah dapat dilakukan cara berikut:
  • Memblok Kalsium. Memperlancar peredaran darah dan menurunkan jumlah air dalam darah dengan cara mengeblok kalsium agar kalsium kembali ke otot dan tidak mengikat air serta tidak mengendap di pembuluh darah;
  • Menurunkan penghambat pembuluh darah tepi;
  • Diuretika, mengurangi jumlah air dalam plasma darah dengan cara dibuang sebagai urine;
  • Anti-andrenegik, menurunkan produksi, sekresi, dan efektivitas hormon adrenalin;
  • Vasodilator yang berfungsi melancarkan peredaran darah dengan cara meningkatkan volume pembuluh darah dan organ-organ yang diisi darah.

Macam-macam Obat untuk Menurunkan Darah Tinggi Selama Kehamilan 

Pada artikel ini, akan dibahas macam-macam obat untuk menurunkan darah tinggi yang berasal dari bahan kimia dan aman digunakan oleh ibu hamil yang memiliki tekanan darah tinggi. Obat pertama ialah obat untuk menurunkan darah tinggi pada ibu hamil dari golongan beta-blocker. Beta-blockers umumnya ditoleransi dengan baik dan aman pada kehamilan. Labetalol menjadi salah satu terapi yang sering dipakai untuk hipertensi dalam kehamilan. Efek samping yang timbul di antaranya kelelahan, penurunan toleransi latihan, serta bronkospasme pada individu dengan penyakit saluran napas reaktif. Labetalol telah dibandingkan dengan metildopa dalam percobaan prospektif dan pengobatan. Hasil yang diperoleh penggunaan obat ini tidak merugikan ibu atau janin. Obat ini tersedia baik dalam bentuk oral dan intravenas sehingga dapat digunakan untuk pasien rawat jalan dan rawat inap. Atenolol terbukti memiliki efek minimal untuk tekanan darah sistolik pada wanita preeklampsia dan terkait juga dengan retardasi janin. Mengingat ketersediaan obat lain yang lebih efektif, termasuk labetalol, atenolol harus dihindari pada pasien yang hamil.

Obat untuk menurunkan darah tinggi pada ibu hamil selanjutnya ialah calcium channel blockers. Dalam sebuah uji coba, ibu preeklampsia yang menerima nifedipine dibandingkan dengan plasebo, ada penurunan secara signifikan di tekanan darah ibu. Selain itu, terjadi penurunan aliran darah arteri umbilikalis. Menurut prospektif, studi Kohort multisenter menemukan 78 perempuan terkena calcium channel blockers pada trimester pertama, terutama nifedipine dan verapamil, tidak ada peningkatan malformasi kongenital utama. Namun, ditemukan ada peningkatan kelahiran prematur bagi penderita yang menerima calcium channel blockers.

Dalam studi kecil pada 7 pasien menyimpulkan diltiazem dapat digunakan juga sebagai agen kontrol pada tingkat kehamilan dan terbukti menurunkan tekanan darah dan proteinuria pada pasien hamil dengan penyakit ginjal. Calcium channel blocker juga tokolitik kuat dan dapat memengaruhi perkembangan tenaga kerja.  Hal yang menjadi perhatian utama dari calcium channel blockers pada masa kehamilan ialah penggunaan kombinasi bersamaan dengan magnesium sulfat untuk kejang profilaksis. Peneliti melaporkan agen ini menyebabkan kolaps sirkulasi dan blockade. Namun, calcium channel blockers, nifedipine dari data yang tersedia obat-obatan ini merupakan alternatif yang efektif dan aman untuk metildopa sebagai agen lini pertama untuk pengobatan hipertensi pada kehamilan.


Oleh: Bidan Rina
Editor: Adrie Noor
Sumber: ncbi.nlm.nih.gov



Terima kasih untuk Like/comment FB :