Obat Sakit Darah Tinggi pada Ibu Hamil

Obat sakit darah tinggi terdiri dari beragam merek atau jenis. Di antaranya ialah α-adrenergic agonists, beta blocker, calcium channel blockers, diuretics, hydralazine, dan lain sebagainya. Obat sakit darah tinggi tersebut efektif menurunkan tekanan darah tinggi bila dikonsumsi dengan benar. Sebaiknya dalam mengonsumsi obat penurun tekanan darah, Anda harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mencegah efek samping yang dapat ditimbulkan.



obat sakit darah tinggi
Tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah (tensi)

Obat Sakit Darah Tinggi pada Ibu Hamil

Golongan agonis alpha-adrenergik 
Salah satu obat dengan catatan sejarah terpanjang untuk hipertensi pada kehamilan adalah metildopa.  Studi jangka panjang pada anak yang lahir dari wanita yang diobati dengan metildopa selama kehamilan tidak menemukan kejadian masalah kesehatan umum atau masalah kognitif. Catatan ini membuat obat ini dijadikan sebagai obat utama dalam mengobati penyakit hipertensi selama kehamilan. Methyldopa bertindak terpusat dengan menurunkan nada simpatik, akibatnya bisa menimbulkan efek samping, termasuk sedasi dan pola tidur yang terganggu. Salah satu efek samping yang potensial, yakni dapat menyebabkan peningkatan ringan enzim hati yang menyebabkan kebingungan terhadap diagnostik sindrom HELLP. Meskipun relatif aman, metildopa bukan penurun tekanan darah yang ampuh menurunkan agen dan efek samping sehingga dibatasi penggunaannya. Metildopa dapat dikombinasikan dengan antihipertensi lainnya, seperti diuretik untuk mencapai target nilai tekanan darah yang sesuai.

Clonidine memiliki tindakan serupa seperti metildopa, tetapi memiliki efek lebih kuat untuk menurunkan tekanan darah. Clonidine dapat mengganggu pertumbuhan janin, terutama jika ibu memiliki penurunan denyut jantung setelah terapi dimulai. Hal ini dapat menyebabkan hipertensi terjadi kembali dan tidak memiliki catatan keamanan yang kuat sebagai metildopa. Oleh karena itu, pemakaian obat ini harus dipertimbangkan dalam kasus intoleransi untuk metildopa.

Golongan Beta-blocker
Golongan obat sakit darah tinggi selanjutnya ialah beta-blocker. Beta-blockers umumnya ditoleransi dengan baik dan aman pada kehamilan. Labetalol menjadi salah satu terapi yang banyak dipakai untuk hipertensi pada masa kehamilan. Efek samping yang timbul dari obat ini, yaitu kelelahan, penurunan toleransi latihan, serta bronkospasme pada individu dengan penyakit saluran napas reaktif dapat saja terjadi. Labetalol telah dibandingkan dengan metildopa dalam suatu percobaan yang bersifat prospektif dan pengobatan tidak dikaitkan dengan hasil yang merugikan ibu atau janin. Obat ini tersedia baik dalam bentuk oral dan intravena sehingga dapat digunakan pada pasien rawat jalan dan rawat inap.

Atenolol terbukti memiliki efek minimal pada tekanan darah sistolik pada wanita dengan preeklampsia dan terkait dengan retardasi atau hambatan pertumbuhan janin intrauterine. Mengingat ketersediaan obat lain yang lebih efektif, termasuk labetalol, atenolol harus dihindari pada masa kehamilan.

Obat golongan diuretik
Obat sakit darah tinggi selanjutnya ialah dari golongan diuretik. Seperti disebutkan di atas, diuretik adalah obat yang paling umum digunakan di kalangan wanita usia subur penderita hipertensikronis. Efek samping yang mungkin timbul ialah kontraksi volume vaskular yang menyebabkan peningkatan lebih lanjut dari tekanan darah pada wanita dengan preeklampsia. Wanita dengan preeklamsia memiliki volume plasma lebih rendah dibandingkan dengan mereka dengan kehamilan normal dan kontraksi volume yang dapat merangsang sumbu renin-angiotensin-aldosteron sehingga menyebabkan kenaikan lebih lanjut dalam resistensi pembuluh darah perifer. Hal ini akan memperburuk hipertensi.

Namun, laporan tahun 2000 tentang tekanan darah tinggi pada masa kehamilan mencatat efek samping yang kurang. Oleh karena itu, jika seorang wanita menggunakan diuretik sebelum kehamilan dapat dilanjutkan selama masa kehamilan dengan pengecualian spironolactone yang mungkin memiliki efek anti-androgen pada janin.


Oleh: Bidan Rina
Editor: Adrie Noor
Sumber: ncbi.nlm.nih.gov



Terima kasih untuk Like/comment FB :