Gejala Darah Tinggi pada Ibu Hamil

Gejala darah tinggi dapat kita kenali dari keluhan yang sering kita rasakan. Keluhan yang dirasakan biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan darah. Pada tahap awal orang yang mengalami penyakit darah tinggi akan menunjukkan gejala darah tinggi berupa rasa pusing pada kepala atau gangguan kesehatan pada umumnya. Namun, setelah diperiksa dengan menggunakan alat tensimeter, terdapat kenaikan tekanan darah dan nilai dari tekanan darah yang dihasilkan berada di atas  nilai tekanan darah normal.




gejala darah tinggi
Tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah (tensi)


Nilai tekanan darah normal biasanya ditunjukkan dengan tekanan darah diastolik yang berada di bawah 90 mmHg dan tekanan darah sistolik yang berada di bawah 140 mmHg. Apabila tilai tekanan darah berada di atas  nilai tekanan darah normal maka dapat mengarah pada gejala darah tinggi.

Gejala Darah Tinggi pada Ibu Hamil

Penyakit darah tinggi tidak hanya diderita oleh orang dewasa, remaja, dan usia lanjut saja. Namun, bisa juga terjadi pada ibu hamil. Penyakit darah tinggi pada ibu hamil dapat diketahui pada saat melakukan pemeriksaan kehamilan. Pada ibu hamil tersebut tekanan darahnya berada di atas tekanan darah yang normal yang disebut hipertensi gestasional. Apabila tekanan darah meningkat pada saat usia kehamilan ibu di atas  20 minggu.

Penyakit tekanan darah dikategorikan sebagai penyakit tekanan darah kronik bila tekanan darah meningkat sebelum ibu tersebut hamil. Selain tekanan darah yang meningkat, ada gejala lain yang mengindikasikan ibu tersebut terkena penyakit tekanan darah tinggi, yaitu bagian wajah, tangan dan anggota gerak mengalami pembengkakan. Selain itu,  biasanya ibu hamil sering mengalami pusing bahkan sampai pada gangguan penglihatan bila tekanan darah mengalami kenaikan sangat tinggi.

Hipertensi akibat kehamilan atau hipertensi gestasional, terutama preeklamsia, merupakan penyebab utama morbiditas maternal dan perinatal dan kematian di seluruh dunia. Dampak dari hipertensi pada  kehamilan telah dipelajari secara ekstensif. Namun, efek jangka panjang potensi hipertensi masa kehamilan pada bayi yang lahir dari ibu penderita hipertensi belum dipelajari. Hipertensi pada masa kehamilan dapat meningkatkan secara signifikan risiko berat badan lahir rendah dan dapat meningkatkan kelahiran prematur serta mengurangi pertumbuhan janin.

Di sisi lain, hipertensi pad amasa kehamilan terkait dengan berat badan bayi saat lahir yang dapat mengalami berat badan lahir rendah. Hal ini menunjukkan bahwa hipertensi masa kehamilan lebih khusus pada preeklampsia adalah sindrom heterogen. Preeklamsia mungkin muncul dalam dua bentuk yaitu pembatasan pertumbuhan janin preeklampsia dan pertumbuhan janin normal pada preeklamsia. Hipertensi dalam kehamilan mungkin memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang yang berbeda pada pertumbuhan bayi. Berat lahir rendah atau IUGR pada bayi dikaitkan dengan terjadinya beberapa penyakit kronis seperti penyakit jantung. Namun, hipotesis tentang asal-usul janin dan penyakit masih menjadi subjek perdebatan.

Perubahan pada masa pertumbuhan bayi dari bayi IUGR, secara dini memiliki efek jangka panjang pada kesehatan di kemudian hari dan perubahan ini mungkin dipengaruhi oleh hipertensi pada masa kehamilan. Oleh karena itu, penting untuk mempelajari pola pertumbuhan bayi yang lahir dari penderita hipertensi pada masa kehamilan.


Oleh: Bidan Sulis
Editor: Adrie Noor
Sumber: ncbi.nlm.nih.gov



Terima kasih untuk Like/comment FB :