Darah Tinggi dan Obatnya (Diuretik-ACE-ARB)

Darah tinggi dan obatnya yang akan kita bahas kali ini merupakan darah tinggi dan obatnya yang berasal dari bahan kimia berdasarkan resep dokter. Untuk mendapatkan obat-obatan ini, pasien didiagnosa terlebih dahulu oleh dokter. Darah tinggi dan obatnya ini mampu bekerja untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Pada umumnya obat untuk penyakit tekanan darah tinggi terdiri dari beberapa golongan obat. Masing-masing obat tersebut merupakan obat penurun tekanan darah tinggi yang bekerja  efektif untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Tentunya, dalam penggunaannya harus sesuai dengan petunjuk dari dokter.



darah tinggi dan obatnya
Tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah (tensi)


Darah tinggi dan obatnya yang dapat digunakan di antaranya ialah obat dari golongan diuretik, obat dari golongan ACE, obat dari golongan penghambat reseptor angiotensin II atau ARB dan oabat dari golongan beta bloker. Ke semua golongan obat untuk penyakit tekanan darah tinggi tersebut sangatlah efektif dalam menurunkan tekanan darah yang tinggi.

Penyakit Darah Tinggi dan Obatnya

Seperti telah dipaparkan sebelumnya, obat-obatan darah tinggi ini harus digunakan sesuai dengan petunjuk dari dokter, mengingat obat-obatan ini dapat menimbulkan efek samping bila digunakan tidak sesuai dengan petunjuk dari dokter.

Obat pertama yang biasa digunakan untuk mengobati penyakit tekanan darah tinggi ialah obat golongan diuretik. Obat golongan diuretik ini misalnya ialah thiazide, diuretik hemat kalium, atau antagonis aldosteron. Penyakit darah tinggi dan obatnya ini bisa menimbulkan efek negatif bila tidak digunakan sesuai dengan aturan.

Obat selanjutnya ialah obat golongan ACE. Pemberian obat dari golongan Inhibitor ACE ini diberikan dengan dosis awal yang rendah, secara bertahap dosis dapat dinaikkan. Obat golongan ACE efektif menurunkan tekanan darah tinggi. Namun, apabila digunakan tidak sesuai dengan aturan yang telah dibuat bisa menimbulkan efek samping berupa hipotensi. Hipotensi yang terjadi bersifat akut.//   Hipotensi terjadi pada terapi inhibitor ACE yang diberikan pada penderita dengan kekurangan natrium, gagal jantung, lanjut usia, atau digunakan bersamaan dengan vasodilator dan diuretik lainnya. Selain hipotensi, efek samping lain dari penggunaan obat ini ialah neutropenia dan granulosit, glomerulonefritis, gagal ginjal akut, dan proteinurea. Selain itu,  penggunaan obat ini dapat menimbulkan efek samping lain berupa batuk kering persisten yang terjadi pada 20% pengguna obat ini. Dosis yang dianjurkan untuk menggunakan obat ini satu kali dalam sehari.

Obat selanjutnya yang dapat digunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi ialah obat golongan penghambat reseptor angiotensin II atau ARB. Obat ARB tidak memiliki efek samping berupa batuk seperti ACE karena ARB bekerja tanpa memecahkan bradikinin. Namun, obat ARB ini tidak boleh digunakan pada  ibu hamil.

Obat penurun tekanan darah tinggi yang lainnya ialah beta blocker. Penggunaan dari obat beta blocker dapat menimbulkan efek samping berupa tidak normalnya konduksi atrioventrikular atau AV dan bradikardi serta gagal jantung akut. Perlu diperhatikan dalam penggunaan beta blocker sebagai obat pengganti dari antihipertensi dapat menyebabkan terjadinya infark miokardial dan angina yang tidak stabil. Oleh karena itu, kebanyakan obat darah tinggi hanya dapat diperoleh melalui resep dokter.


Oleh: Bidan Rina
Editor: Adrie Noor
Sumber: diarikesehatan.blogspot.co.id



Terima kasih untuk Like/comment FB :